oleh

Kasus DBD di Kota Kupang Mengalami Penurunan

TEROPONGNTT, KUPANG — Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Kupang mengalami penurunan. Dari data surveilens Dinas Kesehatan Kota Kupang, pada tahun 2017 menunjukkan kasus DBD sebanyak 102 kasus.

Demikian dikatakan Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsi, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (14/12/2017). Sri Wahyuningsi mengatakan, kondisi ini  berbading terbalik  dengan tahun sebelumnya yang mengalami peningkatan. Sesuai data, jumlah kasus DBD di Kota Kupang tahun 2016  sebanyak 374 kasus.

“Kota Kupang sudah mampu menekan angka kasus DBD. Secara data, adanya penurunan kasus DBD di tahun 2017 dibanding tahun sebelumnya, karena tingkat kesadaran masyarakat akan dampak dari penyakit DBD sudah semakin tinggi, yakni dengan menjaga lingkungan dan juga melakukan pembrantasan sarang nyamuk dalam dalam bentuk 3 M,” ujar Sri Wahyuningsi.

Secara data angka kasus DBD tahun 2017 menurun, tetapi menurut Sri Wahyuningsi, upaya kewaspadaan dan antispasi terus dilakukan dinas kesehatan yakni dengan membagi-bagikan abate ke puskesmas dan kelurahan, dan juga lakukan gerakan 3 M.

“Fenomena naiknya DBD akan terjadi pada akhir Desember hingga Maret nantinya. Kami berharap, dengan tren tersebut peran masyarakat sangat dibutuhkan karena bisa dapat hidup sehat, tidak bisa saja menunggu arahan dari pemerintah, tapi tingkat kesadaran harus juga dari masyarakat dalam menjaga kesehatan dan lingkungan,” kata Sri Wahyuningsi.

Sri Wahyuningsi menambahkan, musim pancaroba merupakan masa peralihan antara dua musim yakni musim kemarau ke musim penghujan yang sudah terjadi saat ini, dapat mempengaruhi kesehatan. Banyak masyarakat akan mengalami penyakit seperti malaria, diare dan DBD, sehingga kualitas lingkungan merupakan determinan penting terhadap kesehatan masyarakat.

“Karena dengan penurunan kualitas lingkungan memiliki peran penting terhadap terjadi penyakit,kondisi patalogis (kelainan fungsi atau morfologi) suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitar yang memiliki potensi penyakit,” tegas Sri Wahyuningsi. (lia)

Komentar