Pariwisata

Prof.Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum Siap Hadir di Festival Cerita Rakyat Alor (FCRA)

451
×

Prof.Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum Siap Hadir di Festival Cerita Rakyat Alor (FCRA)

Sebarkan artikel ini
FOTO : Cerita Rakyat Alor

TEROPONGNTT, KALABAHI – Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), secara hhusus menggelar Festival Cerita Rakyat Alor (FCRA), untuk melestarikan sejarah, budaya dan bahasa daerah di “Negeri Seribu Moko” tersebut. Pakar bahasa Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum siap hadir dan memberi kulaih umum pada acara pembukaan lomba menulis cerita rakyat Alor pada rangkaian pegelaran FCRA, 25 Oktober 2021.

Demikian dijelaskan Ketua Panitia Kegiatan FCRA, Yohanis Atamai, S. Pd di Kalabahi, Rabu (13/10/2021) malam. Rangkaian kegiatan FCRA yang pertama kali digelar di Kabupaten Alor ini, sebenarnya berlangsung hampir dua bulan lamanya, dan sudah dimulai sejak tanggal 22 September 2021. Trdapat empat kegiatan penting dalam penyelenggaraan FCRA, yakni seminar nasional, workshop penulisan cerita rakyat Alor, lomba penulisan cerita rakyat Alor dan puncak acara diisi dengan Pentas Seni dan pengumuman pemenang lomba penulisan cerita rakyat Alor.

“Kegiatan , lomba penulisan cerita rakyat Alor ini sebenarnya sedikit ditunda ke tanggal 25 Oktober 2021 dari jadwal sebelumnya, karena bertepatan dengan kunjungan Pangdam Udayana ke Kabupaten Alor serta pegelaran vestival paralayang dan festival lainnya. Selain itu, juga karena jumlah peserta lomba penulisan cerita rakyat Alor dirasakan panitia masih kurang, sehingga saat ini pendaftaran peserta lombanya masih terus dibuka,” kata Atamai.

Menurut Atamai, pakar bahasa Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum siap hadir dan memberi kulaih umum pada acara pembukaan lomba menulis cerita rakyat Alor. Panitia juga sedang berkoordinasi dengan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT, Linus Lusi, agar beliau bisa hadir untuk menberi memberi motivasi menulis kepada para siswa sekolah dan mahasiswa di Kabupaten Alor, bersama Prof. Simon Sabon Ola selaku kutator dan para kurator lainnya.

“Saat ini ssudah 57 peserta lomba menulis cerita rakyat Alor yang mendaftar, 34 peserta dari kategori umum dan 23 peserta lainnya dari kategori siswa dan mahasiswa. Kita berharap, ada penambahan peserta terutama dari para siswa sekolah, sehingga makin banyak cerita rakyat Alor dari berbagai kecamatan yang ikut serta,” kata Atamai.

Berdasarkan Peta Bahasa Kemendikbud Tahun 2020, kata Atamai, Kabupaten Alor memiliki 25 bahasa daerah. Karena itu, jumlah bahasa di Alor merupakan yang terbanyak di Provinsi NTT, yang memiliki 72 bahasa daerah ini. Bahasa-bahasa daerah di Kabupaten Alor yakni: bahasa Alor, Batu, Blagar, Deing, Dulolong, Hamap, Kabola, Kaera, Kafoa, Kamang, Kiraman, Klamu, Klon, Kolana, Kui, Kulatera, Lona, Nedebang, Pura, Retta, Sar, Sawila, Teiwa, Tewa, dan Wersing/Kolana/Wirasina.

Atamai berharap, seluruh rangkaian kegiatan Festival Cerita Rakyat Alor (FCRA) bisa berjalan baik dan sukses. Sehingga kekayaan budaya, kekayaan bahasa di Kabupaten Alor bisa dilestarikan dan tidak dibiarkan punah.

(max)

Comment