Tips & Kesehatan

Cerita Inspiratif Edward Mandala, Pegawai Bank TLM Yang Aktif Donor Apheresis, Ternyata Pernah Alami Darah Kental

210
×

Cerita Inspiratif Edward Mandala, Pegawai Bank TLM Yang Aktif Donor Apheresis, Ternyata Pernah Alami Darah Kental

Sebarkan artikel ini
FOTO : Edward Mandala

TEROPONGNTT, KUPANG – Sebuah cerita inspiratif terkait donor darah datang dari salah satu pegawai Bank TLM, Edward Mandala. Kepala Seksi Funding Bank TLM ini, bukan cuma aktif sebagai pendonor untuk donor darah, tetapi kini aktif juga sebagai pendonor apheresis.

Donor apheresis adalah prosedur medis di mana pengambilan darah lengkap dari pendonor dilakukan secara otomatis menggunakan alat khusus. Pengidap kanker biasanya memerlukan donor apheresis karena membutuhkan banyak trombosit untuk mempercepat pembekuan darah ketika terjadi pendarahan.

Ditemui di kegiatan Donor Darah dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 Bank TLM, Sabtu 21 Januari 2023, Edward Mandala menceritakan kisahnya hingga aktif menjadi pendonor apheresis.

“Ceritanya berawal ketika saya menjadi orang pertama di Bank TLM yang terkena penyakit Covid-19 pada tahun 2020, ketika pandemic covid-19 merebak pertama di wilayah Provinsi NTT,” kata Edward Mandala mengawali ceritanya.

Saat itu, ia bersama istri dan anaknya terpapar covid-19 sehingga harus menjalani perawatan dan isolasi diri di RS TNI AD Wira Sakti Kupang selama dua pekan. Petugas Kesehatan lengkap dengan memakai alat pelindung diri (APD) datang menjemput mereka di rumah dan membawa menggunakan ambulance ke rumah sakit.

“Saya ingat betul, semua orang menjauhi saya dan keluarga karena takut tertular covid-19. Bahkan, walaupun sudah keluar dari rumah sakit dan sudah dinyatakan sembuh, tepat dijauhi orang dan bahkan dibuli,” cerita Edward Mandala.

Ketika sudah kembali masuk kerja di Bank TLM, Edward Mandala juga masih ditakuti dan dijauhi rekan-rekan kerjanya.  Butuh beberapa waktu lamanya baru bisa membuat orang-orang percaya kalau dirinya dan keluarga sudah benar-benar sembuh dari Covid-19.

“Tapi sewaktu masih menjalani masa isolasi selama 14 hari di rumah sakit, saya pernah membaca di internet, di goolge, tentang Terapi Plasma Konvalesen, yaitu plasma yang diambil dari pasien yang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19, atau penyintas penyakit covid-19,” kata Edward Mandala.

Plasma itu adalah bagian dari darah yang mengandung antibodi. Pasien yang telah sembuh dari Covid-19 atau penyintas, bisa melakukan donor plasma kepada penderita covid-19, supaya memiliki tambahan antibodi guna memperkuat sistem imun tubuh terhadap virus covid-19 tersebut.

Ingat akan Terapi Plasma Konvalesen ini, Edward Mandala kemudian mendatangi Dokter Heri Sutrisno, salah seorang dokter rumah sakit di Kupang yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Undana. Kepada dokter Heri Sutrisno, Edward Mandala lalu meminta ijin agar dirinya bergabung di grup whatsapp (Grup WA) dokter Heri Sutrisno, sehingga mengetahui informasi tentang Terapi Plasma Konvalesen dan kegiatan donor plasma.

Edward Mandala ingin ikut membantu sesama yang menderita penyakit covid-19 melalui donor plasma, karena dirinya adalah seorang penyintas. Permintaannya pun dikabulkan dokter Heri Sutrisno, dan ia digabungkan dalam grup WA tersebut.

“Suatu hari, saya berinisiatif untuk mengumpulkan para penyintas covid-19. Tujuannya, untuk mengumpulkan sesama penyintas covid-19 yang mau donor plasma. Saya kemudian menulis keinginan itu di salah satu grup WA, dan tanpa saya sadari ternyata pesan WA saya di grup itu menjadi viral. Banyak yang menanggapi dan mau bergabung,” cerita Edward Mandala.

Kesibukan dirinya pun menjadi meningkat. Selain menjalankan tugas pekerjaan di Bank TLM, ia pun mulai sibuk melayani kegiatan donor plasma bersama rekan-rekan sesame penyintas yang ia ajak bergabung.

Edward Mandala kemudian membuat grup WA khusus untuk penyintas covid-19 yang bersedia melakukan donor plasma untuk membantu menyelamatkan sesame yang menderita covid tersebut. Nama grup Wa-nya; Grup Plasma Givers

“Saya berusaha membagi waktu secara baik antara pekerjaan dan kegiatan komunitas pendonor plasma. Tapi saya senang karena saya dan teman-teman bisa membantu menyelamatkan sesame yang terpapar dan menderita covid-19,” kata Edward Mandala.

Edward Mandala mengaku tidak menyesal walau menjadi lebih sibuk. Baginya membantu sesame adalah berkat. Apalagi plasma darah diproduksi secara alami dalam tubuh, disiapkan Tuhan secara cuma-cuma.

“Jadi kalau ada permintaan plasma sesuai golongan darah, saya langsung umumkan ke teman-teman penyintas melalui grup WA untuk segera membantu. Saya sendiri juga pendonor plasma aktif,” cerita Edward Mandala.

Namun setelah ada vaksin covid-19, kegiatan donor plasma kemudian berhenti. Karena itu, Edward Mandala dan rekan-rekannya berlih ke donor apheresis, untuk membantu pengidap kanker. Biasanya, penderita kanker yang akan menjalani kemo, memerlukan donor apheresis karena membutuhkan banyak trombosit.

Seperti halnya donor plasma, donor apheresis juga dapat dilakukan setiap dua minggu sekali. Sedangkan kalau donor darah, biasanya dilakukan tiga bulan sekali atau bisa dilakukan 75 hari sekali.

“Jadi HP saya setiap hari selalu ada telepon masuk. Kalau sebelumnya minta donor plasma, tapi sekarang minta donor apheresis. Bahkan dari Surabaya juga ada yang telepon saya, minta bantuan donor apheresis,” cerita Edward Mandala.

Ia pernah bertanya, mengapa sampai minta bantuan dari dirinya yang ada di Kupang, apakah di Surabaya tidak ada yang bisa donor apheresis. Tetapi dijawab, di Pulau Jawa tidak gratis, harus dibayar dengan harga tertentu.

Bagi Edward Mandala, darah yang ada di dalam tubuh diberikan Tuhan secara Cuma-Cuma, sehingga keterlaluan kalau harus diperjualbelikan. Sementara disinggung mengenai donor darah, ia mengaku juga punya cerita sendiri mengenai donor darah.

Pada tahun 2010, cerita Edward Mandala, dirinya tiba-tiba pingsan. Bahkan pernah juga pingsan saat sedang bekerja di kantor. Ia kemudian memeriksakan diri ke dokter, dan ternyata ia pingsan karena mengalami darah kental.

Darah di dalam tubuh tidak terlalu encer, sehingga membuat jantung harus bekerja keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Salah satu jalan keluarnya selain minum obat pengencer darah, menurut dokter, adalah dirinya disarankan untuk melakukan donor darah.

“Saya mengalami darah kental itu tahun 2010 saat usia saya 32 tahun. Mulai saat itu saya rutin donor dara setiap 75 hari sekali. Tapi hari ini, di kegiatan donor darah dalam rangha HUT ke-15 Bank TLM, saya tidak bisa donor darah, karena saya baru selesai donor darah pada Desember 2022. Jadi musti bulan depan baru bisa donor darah lagi,” kata Edward Mandala.

Setelah donor darah secara rutin, hemoglobin atau HB darahnya menjadi normal dan tidak mengalami darah kental lagi. Ia hanya sekali minum obat pengencer darah sebelum menjalani donor darah.

Edward Mandala mengatakan, darah memiliki beberapa komponen, termasuk Trombosit, Plasma, Sel Darah Merah, dan Sel Darah Putih. Kalau donor plasma, yang diambil hanya plasma dalam darah, begitu pula dengan donor apheresis, yang diambil hanyalah trombosit.  Sementara komponan lain dalam darah dikembalikan ke dalam tubuh saat melakukan donor plasma atau pun donor apheresis.

Baik donor darah, donor plasma maupun donor apheresis, menurut Edward Mandala, bertujuan membantu sesame yang membutuhkan untuk menjadi sehat kembali. Selain itu, dengan melakukan donor, regenerasi sel dalam darang bisa berjalan baik dan membuat tubuh pendonor juga menjadi lebih sehat. Sehingga sangat disayangkan jika seseorang menolak melakukan donor darah.

Dan, yang membuat dirinya terus aktif melakukan donor darah dan donor apheresis, tambah Edward Mandala, karena ia juga didukung istri dan anaknya. “Istri dan anak tidak pernah protes kalau ada telepon dan saya harus keluar untuk membantu oarng yang membutuhkan donor darah, donor plasma ataupun donor apheresis,” kata Edward Mandala.

Justru, ketika ada telepon masuk, istri atau anak meminta Edward Mandala untuk cepat-cepat angkat telepon dan segera memberi bantuan. Serta pesan, agar selain memberi bantuan juga mendoakan agar orang yang menderita segera disembuhkan Tuhan.

“Saya bahkan membantu membeli dan mengantarkan obat kepada yang membutuhkan bantaun. Tapi saya bahagia melakukan itu. Ini adalah pelayanan bagi saya. Tuhan menghendaki saya melakukan ini dan saya tak pernah kekurangan,” kata Edward Mandala

(max)

Comment