Profil

Dr. apt. Muhajirin Dean, S.Farm.,M.Si : Dari Lembaga Obat Herbal NTT Sampai Rumah Makan Sambal Mama

112
×

Dr. apt. Muhajirin Dean, S.Farm.,M.Si : Dari Lembaga Obat Herbal NTT Sampai Rumah Makan Sambal Mama

Sebarkan artikel ini
FOTO : Dr. apt. Muhajirin Dean, S.Farm.,M.Si

TEROPONGNTT, KUPANG – Namanya Dr. apt. Muhajirin Dean, S.Farm.,M.Si. Ia adalah putra dari pengusaha sukses yang juga tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) NTT, H Ismail Dean. Selain dikenal sebagai seorang dosen di Fakultas Kesehatan dan Kedokteran Undana, anak pertama dari empat bersaudara ini juga sedang giat-giatnya merintis sejumlah usaha bisnis.

Seakan tak mau kalah dari sang ayah, jebolan S3 Universitas Airlangga Surabaya tahun 2020 ini, juga mengelola empat usaha bisnis sekaligus. Mulai dari Lembaga Obat Herbal NTT, Apotek Harapan Baik, Wisma Harapan Baik, hingga Rumah Makan Sambal Mama.

Bahkan, ia juga berencana membuka Klinik Anak, karena istrinya seorang dokter spesialis anak. Sementara Rumah Makan Sambal Mama juga sudah dua cabang dan berencana menambah satu cabang rumah makan lagi.

Ditemui wartawan di kantornya, pada Senin (12/6/2023) siang, Dr. apt. Muhajirin Dean, S.Farm.,M.Si bercerita, kalau ia adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adik laki-lakinya saat ini bekerja di Makasar, Sulawesi Selatan.

Sementara adik perempuanya, kini masih dalam bangku kuliah, dan adik perempuannya yang menjadi anak bungsu, saat ini masih duduk di bangku SMA. Jadi mereka berempat terdiri dari dua pria dan dua wanita.

“Tahun 2020, sata lulus dari pendidikan doctor atau S3 di Universitas Airlangga Surabaya. Saat kembali ke Kupang, saya kemudian berpikir, apa yang bisa saya buat. Maka, yang pertama saya bikin adalah membentuk Lembaga Obat Herbal Tradisional Asli NTT,” kata Dr. Muhajirin.

Ia kemudian melakukan penelitian dan pengembangan obat tradisional asli NTT, lebih spesifiknya adalah obat tradisional berbahan dasar faloak. Untuk diketahui, Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) adalah tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk pengobatan hepatitis, maag, dan memulihkan stamina.

Bahkan, kata Dr. Muhajirin, saat ini ia bersama timnya sudah membuat beberapa produk obat tradisional asli NTT, cuma proses produksi untuk kegiatan bisnis masih tertahan di uji-uji kemanusiaan. Proses uji harus dilalui karena yang diangkat adalah sesuatu yang bukan obat nasional dan diharapkan menjadi obat nasional.

“Tetapi uji-uji lain untuk produk sudah lengkap. Yang kedua, karena itu produk obat maka harus punya tempat untuk jualnya. Makanya kita bikin apotek, karena tidak mungkin obat begitu saya jual di warung-warung. Tidak nyambung,” kata Dr. Muhajirin.

Artinya, Apotek Harapan Baik adalah usaha bisnis kedua yang dirintis dan ditekuni Dr. apt. Muhajirin Dean, S.Farm.,M.Si. Kedua jenis usaha ini, memang sesuai dengan dsiplin ilmu yang ia miliki.

Sejalan dengan disiplin ilmu yang dimiliki pua, saat ini Dr. Muhajirin tengah berencana pula membuka Klinik Anak, karena istrinya adalah seorang dokter spesialis anak. Bangunan Gedung untuk dijadikan Klinik Anak pun sudah ada.

Namun yang sedikit berbeda dengan disiplin ilmunya adalah, membuka Rumah Makan dengan nama Rumah Makan Sambal Mama. Inspirasi membuka rumah makan Sambal Mama ternyata diperoleh dari sang Mama yang ternyata pandai membuat sambal.

“Mama saya pandai membuat sambal, makanya saya beri nama Rumah Makan Sambal Mama. Untuk sementara saat ini Rumah Makan Smbal Mama sudah ada dua cabang, salah satunya di Bandara El Tari Kupang, tepat diantara ruang keberangkatan dengan bagian kargo” kata Dr. Muhajirin.

Bahkan rencananya, akan buka cabang yang ketiga di samping kampus Universitas Citra Bangsa (UCB). Di tempat ini akan menjadi cabang Rumah Makan Sambal Mama yang ketiga.

Sementara mengelola Wisma Harapan Baik yang merukakan jenis usaha penginapan, ia Kelola menggantikan mamanya yang sedang sakit. Seharusnya yang mengelola Wisma adalah mamanya.

Semua jenis usaha bisnis yang dirintis dan dikelola Dr. Muhajirin ini berpusat di dalam satu kawasan atau komplek, yakni di Jalan Perintis Kemerdekaan I, wilayah Kelurahan Kayu Putih, Kota Kupang.

Agar semua usaha bisnis yang digelolanya bisa berjalan baik, menurut Dr. Muhajirin, ia dibantu oleh stafnya yang ia percayakan. Terutama untuk usaha Rumah Makan Sambal Mama.

“Intinya manusia yang 100 persen jujur itu tidak ada, jadi kita ambil yang persentase kejujurannya mendekati yakni yang 90 persen. Untuk mengetahui dan memastikan tentu kita uji dulu orangnya,” kata Dr. Muhajirin .

Orang kepercayaan itulah yang bertugas melaporkan mengenai apa yang kurang, Jadi orang atau karyawan yang dipercaya ini kaya garis komando. Tetapi hal-hal yang berhubungan dengan harga, kualitas barang, itu memang dirinya harus turun langsung.

Diakui Dr. Muhajirin, jiwa bisnis yang ada dalam dirinya turun dari jika bisnis orang tua, baik bapaknya maupun mamanya.

Saat ini ayahnya, H, Ismail Dean menekuni usaha bisnis kapal ikan, usaha bisnis yang ditekuni sejak jaman nenek moyang. Tapi karena dirinya punya disiplin ilmu bidang Kesehatan, maka merintis usaha di bidang Kesehatan.

Ia menambahkan, saat ini di laboratorium Lembaga Obat Herbal Tradisional NTT, pihaknya juga memiliki pasien binaan yaitu pasien dari RSU Prof WZ Johannes Kupang yang menderita penyakit TBC, badan bakuning, dan penyakit hepatitis.

Kepada pasien binaan itu, Lembaga Obat Herbal Tradisional NTT menyediakan obat gratis. Bahkan ada beberapa yang sudah menjadi pasien binaan selama 9 atau 10 bulan. Biaya pembelian obat diperoleh dari penjualan produk obat herban tradisional NTT yang dijual di tempat itu.

Untuk itu, Dr. Muhajirin berpesan kepada generasi muda di Provinsi NTT, untuk mulai mencoba dan merintis suatu usaha. Apapun bentuknya dan berkerjalah dengan tekun. Pasti suatu saat akan menjadi orang yang berhasil.

Sementara menyambut Hari Raya Idul Adha dan HUT Kemerdekaan RI, Dr. Muhajirin berpesan agar kita tidak lupa berkurban dan berbagi dengan sesame.

“Harta kita tidak akan berkurang kekita kita berbagi, justru akan ditambahkan oleh Tuhan,” pesan Dr. Muhajirin.

(*)

 

Comment