Opini

Kenali Potensi Siswa; Kunci Wujudkan Meredeka Belajar

328
×

Kenali Potensi Siswa; Kunci Wujudkan Meredeka Belajar

Sebarkan artikel ini
FOTO : Kadek Ayu Astiti, S. P.d, M. Pd

Oleh: Kadek  Ayu Astiti, S. P.d, M. Pd. (Dosen Undana)

TEROPONGNTT, KUPANG — Merdeka Belajar merupakan target yang ingin dicapai mas menteri pendidikan kita saat ini yaitu mas Nadiem Makarim. Merdeka belajar berarti siswa diberikan kebebasan atau kemerdekaan baik dalam berpikir, berkreasi serta betindak dalam sebuah proses pembelajaran. Kebebasan ini bukan semata-mata bebas tanpa batasan, namun memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dan bakat yang dimiliki.

Mengapa merdeka belajar ini penting? Karena setiap individu siswa memiliki keunikan masing-masing dengan profil, minat dan bakat yang berbeda. Keberagaman bukanlah sebuah kelemahan, namun keberagaman ini adalah sebuah kekuatan yang harus diperhatikan seorang guru agar siswa dapat berkembang dan belajar dengan optimal. Prioritas dalam sebuah pembelajaran adalah kebutuhan siswa. Apa yang siswa butuhkan lebih penting daripada sebuah target capaian pembelajaran sehingga apa yang siswa butuhkan menjadi tolak ukur proses pembelajaran berlangsung.

Mewujudkan merdeka belajar bukanlah perkara yang mudah, guru harus memahami terlebih dahulu profil dan kebutuhan siswa. Profil siswa terdiri dari latar belakang, gaya belajar, dan kesiapan siswa dan hal ini dapat digali menggunakan berbagai instrument seperti tes diagnostik, wawancara, observasi dan lainnya. Hal yang sederhana dapat dilakukan untuk mengenali profil siswa adalah dengan guru mengamati kebiasaan siswa, hal yang sering siswa lakukan di kelas untuk mengetahui kegemaran maupun gaya belajar mereka. Guru dapat berdiskusi dengan guru lain tentang kemampuan siswa menerima materi dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Selain itu guru dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik untuk mengetahui minat dan karakteristik siswa. Misalnya bertanya tentang kebiasaan siswa saat belajar, ada yang belajar sambil mendengarkan musik, belajar sambil menonton TV, belajar dengan situasi yang sepi atau dengan cara lainnya. Pertanyaan seperti itu guru akan memperoleh data awal terkait keberagaman yang ada di kelas tersebut. Berdasarkan pemetaan tersebut guru dapat mengetahui bagaimana kesiapan siswa termasuk gaya belajar mereka serta apa yang dibutuhkan siswa dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran berdiferensiasi menjadi jawaban untuk dapat mewujudkan merdeka belajar di dalam kelas. Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuat metode pembelajaran yang berpihak pada murid dengan mengakomodir kebutuhan siswa. Setiap siswa memiliki keunikan masing-masing dan tidak dapat disamaratakan. Ada siswa yang memiliki kemampuan bahasa yang baik, namun ada juga siswa yang memiliki kemampuan numeriknya yang baik. Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan melalui 3 cara yakni diferensiasi konten diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten dilakukan dimana konten materi yang disampaikan dengan berbagai cara misalnya melalui video, gambar atau bacaan. Diferensiasi proses dilakukan dengan melakukan kegiatan pembelajaran melalui berbagai aktivitas yang mampu mengakomodir keberagaman gaya belajar siswa, seperti misalnya melalui diskusi kelompok, praktikum, simulasi, atau lainnya. Kegiatan yang bervariasi selain dapat mengakomodir keberagaman gaya belajar siswa, juga mampu meningkatkan motivasi siswa untuk lebih bersemangat mengikuti pembelajaran. Karena ketika mereka senang maka apa yang mereka pelajari akan lebih mudah mereka pahami dan akan berkesan sehingga berpeluang tersimpan dalam long term memory siswa. Diferensiasi lainnya adalah diferensiasi produk, dimana guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghasilkan luaran dari sebuah hasil belajar dalam berbagai bentuk sesuai dengan minat dan bakat mereka. Tugas yang diberikan memberikan eksempatan bagi siswa untuk bekerja, belajar dengan cara yang mereka sukai. Siswa akan menampilkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan minat mereka (kesiapan siswa).

Pembelajaran berdiferensiasi memberikan tantangan tersendiri bagi guru yang menerapkannya, pasalnya guru harus mengetahui terlebih dahulu karakter siswa di kelasnya serta mempersiapkan bahan dengan cara yang lebih variatif serta beragam. Guru harus mampu menannggapi dan merespon kebutuhan belajar siswanya. Terdengar begitu mudah secara teori, namun dalam pelaksanaannya guru akan menghadapi tantangan khususnya pada diri guru sendiri. Apakah guru dapat melakukannya? Tentu, karena menjadi seorang guru adalah profesi yang sangat luar biasa. Selama ini sebenarnya guru telah menerapkan berbagai cara-cara khusus dalam menerapkan sebuah proses pembelajaran yang mana bahkan muncul secara natural sesuai kondisi yang dihadapi di kelas. Itu membuktikan bahwa guru mampu beradaptasi dan menyelesaikan permasalahan di dalam kelas sehingga tentunya guru juga mampu memahami profil siswa dengan baik.

Berbagai tantangan tersebut tidaklah seberapa dibandingkan dengan hasil yang diperoleh. Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya mewujudkan merdeka belajar untuk mencapai target pemahaman konsep siswa akan materi pelajaran, namun pembelajaran berdiferensiasi mampu menajamkan potensi siswa. Siswa yang gemar melukis akan terlatih melukis, siswa yang gemar menulis akan terlatih kemampuan menulisnya, siswa yang gemar bercerita akan terlatih kemmapuan berkomunikasinya. Melalui latihan-latihan kecil disetiap proses pembelajaran itulah bakat siswa akan terus berkembang dan menjadi sebuah keahlian di bidangnya. Terdengar sederhana, namun akan berdampak besar bagi siswa itu sendiri.

(*)

Comment