Opini

Rabies; Ancaman Bagi Pariwisata dan Kesehatan Masyarakat NTT

409
×

Rabies; Ancaman Bagi Pariwisata dan Kesehatan Masyarakat NTT

Sebarkan artikel ini
FOTO : Dr. Jeffrey Jap, drg.,M.Kes

Oleh : Dr. Jeffrey Jap, drg.,M.Kes (Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Provinsi NTT – ASN Dinkesdukcapil Provinsi NTT)

TEROPONGNTT, KUPANG — Potensi destinasi  parawisata  NTT   dominan berada  di pulau Flores.   Dengan    ikon   utamanya    Labuan  Bajo   sebagai  destinasi  super prioritas.  Dan  taman nasional komodo dengam spesies biawak raksasa (purba)  yang  masuk  dalam kategori the  seven  new wonder in the world  tentunya  menjadi kebanggaan  Provinsi  Nusa Tenggara Timur dan sekaligus  sebagai  lokomotif   berkembangnya dunia parawisata  di labuan bajo khisusnya dan dataran Flores  secara  satu kesatuan pulau   dengan  masing – masing keunikan   dan pesona alam serta budaya yang  menarik.

Sukses penyelenggaraan KTT Asean ke  42, 10 – 11  Mei 2023  di Labuan Bajo menjadi salah satu  barometer  dan tonggak  akan mangkin menggeliatnya   kunjungan wisatawan mancanegara,  hal ini   dapat disimpulkan dari berbagai statemen  positif    dan kekaguman  akan keindahan alam  labuan bajo  yang terpancar  baik secara verbal  maupun  nonverbal  melalui  gestur mimik   happy  dari   para kepala daerah maupun delegasi mancanegara yang menghadiri  KTT tersebut.

Peluang  kunjungan  wisatawan yang  diprediksi akan meningkat tentunya  perlu di ikuti dengan  pengawalan  akan banyak aspek  keamanan  termasuk di dalamnya adalah keamanan kesehatan  para  wisatawan. Perlindungan dari ancaman penyakit menular  perlu mendapat atensi tertinggi  dalam  industri parawisata  selain tentunya hospitality dalam melayani para  wisatawan.

Berbagai  penyakit potensial   wabah  (KLB) menjadi   ancaman  serius terhadap pertumbuhan  ekonomi di sùatu wilayah  yang  penggeraknya adalah  industri pariwisata. Sebagaimana  wabah  pandemic covid 19  lalu yang meluluh lantahkan  banyak aspek  kehidupan  termasuk ekonomi dan parawisata  menjadi pembelajaran   yang perlu  di  antisipasi terhadap  penyakit potensi wabah lainnya.  Termasuk adalah  RABIES.

Rabies adalah penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat,  pada  manusia dan hewan,   disebabkan oleh virus (Lyssa virus). Rabies bersifat fatal atau hampir  selalu diakhiri dengan kematian, tapi dapat dicegah. Anjing adalah vektor utama rabies pada manusia (95%),   selain kelelawar   kucing dan kera.

Cara penularan penyakit rabies virus ini umumnya masuk ke tubuh manusia melalui cakaran, gigitan hewan yang terinfeksi virus, serta jilatan hewan yang terinfeksi ke mulut, mata, atau luka terbuka. Rabies sering dikenal sebagai penyakit ‘anjing gila’ karena  dominan vektor nya atau dikenal sebagai hewan  penular  rabies (HPR) adalah anjing.

Kasus rabies  di NTT pertama kalinya tercatat  pada  tahun  1997 yang  di tularkan oleh  HPR  yakni anjing yang di bawa masuk  dari  pulau Buton-  Sulawesi oleh  pendatang /pedangan,  hingga  kini  telah   26 tahun berlalu   dan  utamanya   terlokalisir  di pulau flores  (8 kabupaten)  dan  lembata.   Dengan trend  kasus GHPR maupun   kematian yang fluktìatif  tinggi dari tahun ke  tahun.

Tahun 2023 terjadi  ekskalasi  pemberitaan di berbagai media terkait persoalan rabies, mulai dari jatuhnya korban, hingga kelangkaan vaksin.   Flores sendiri dengan sasaran utama   9 kabupaten  menunjukan   disparitas yang  tinggi  dimana ketersediaan  VAR tidak mencapai 5 %   dari seharusnya   70 %  jumlah   polulasi HPR   yang perlu  mendapatkan  VAR  agar  daratan  flores  dapat terhindar  dari ancaman KLB  rabies  yang   tingkat fatality   Ratenya  sangat tinggi .  Sebagaimana  data polulasi  HPR adalah sejumlah  302.669 ekor.  Sementara  ketersedian  VAR sebanyak  15.000 Dosis.

Adapun data Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) sebagaimana  diekspose  oleh   Dinkesdukcapil Provinsi NTT tercatat  sejak  tahun 2018  sampai 2022, setiap tahunnya terjadi  GHPR sebagai berikut.  12.530, 13.599, 11.262, 10.858, 12.721 gigitan  sementara  jumlah kematian  adalah sbb. 12, 16, 5, 4 dan 9  kematian  setiap tahunnya.

Secara  kesehatan veteriner, kerawanan  / ancaman akan  merebaknya kasus rabies sudah sangat beresiko  sehingga  tindakan yang harus   diambil  adalah  vaksinasi  terhadap  hewan penular  rabies  (HPR).

Cerita sedih  dari   daratan  Flores  NTT   dimana  selama  bulan  Mei 2023 tercatat  3  anak manusia merenggang nyawa  akibat keganasan  rabies yang terlaporkan  dari kabupaten  Ende, Sikka  dan  Manggarai Timur.  Tentunya    situasi ini  membuat trenyuh setiap  kita, akankah   jatuh korban berikutnya lagi? Atau  akan menyebar ke kabupaten lainnya lagi  baik dalam daratan  flores  maupun keluar daratan  flores?  Tentu harapnya  adalah tidak,  oleh karenanya perlu segera  diambil langkah strategis  menghentikan penularan  rabies.

Saat ini,  seluruh daratan  Flores 8 kabupaten  dan Lembata adalah daerah endemis rabies. Sementara kabupaten lainnya  di Provinsi  NTT  belum tercatat adanya  kasus  GHPR, maka tentu ajakannya  adalah    mari jaga  NTT  melalui kerja  kerja cerdas  dan tuntas agar  kasus GHPR  segera  terbatasi   dan tidak menyebar lebih luas ke kabupaten lainnya  diluar daratan  Flores – Lembata.

Pengendalian rabies memerlukan langkah terstruktur dan sistematis dengan melibatkan seluruh sektor terkait  dalam  1  regional   semisal  1  daratan flores. Yang terdiri dari  8 kabupaten dan  1 kabupaten tetangga dekat karena memungkinkan adànya mobilitas dari HPR dari 1 kabupaten ke kabupaten lainnya  dan menularkan virus.

Sebagaimana  permenkes Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulanganan, sudah jelas bahwa semua pihak wajib turut serta dalam upaya penanggulanganan.

Pendekatan strategis untuk memberantas rabies pada manusia dan hewan harus fokus pada peran berbagai kelompok yang multidisiplin, termasuk dari sektor publik dan swasta.  Penerapan pendekatan multidisiplin kolaboratif yang sering disebut “One Health”, menjadi langkah yang efektif dalam memerangi rabies dengan cara melakukan koordinasi secara intensif antara pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Camat dan Desa/Lurah, Penyuluh Lapangan, aparat serta  Sektor Swasta dan masyarakat secara keseluruhan.

Adalah sebuah keniscayaan bahwasannya dengan upaya yang  serius dan  sistematis serta kolaboratif  antar berbagai stakholder  secara kontinum.  Dapatlah membebaskan  flores  dari ancaman  rabies.   Mari bersama  bebaskan  flores  dari ancaman rabies (Making flores free of  rabies).  Guna mencapai  kondisi diatas maka  komitmen dan  aksi nyata  dari  seluruh  pemangku jabatan dan  pemangku  kepentingan perlulah  memberi atensi yang  adekuat  untuk  segera menyudahi penularan kasus rabies  melalui gigitan HPR baik  di daratan Flores -lembata  maupun  di NTT  pada umumnya  dan tentunya atas dukungan Pemerintah  Pusat.

(*)

Comment