Opini

Sejarah Masuknya Agama Katolik di Bello, Ini Ceritanya..

289
×

Sejarah Masuknya Agama Katolik di Bello, Ini Ceritanya..

Sebarkan artikel ini
FOTO : Gereja Stasi St Agustinus Belo, Kota Kupang

TEROPONGNTT, KUPANG – Belo merupakan salah satu wilayah di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di wilayah Kecamatan Maulafa. Dalam hirarki Gereja Katolik, saat ini wilayah Belo dikenal sebagai sebuah stasi. namanya Stasi St. Agustinus Belo, yang merupakan bagian dari wilayah Paroki St. Fransiskus dari Asisi BTN Kolhua, Keuskupan Agung Kupang (KAK).

Cerita penyebaran iman Katolik di Bello, Kota Kupang, berawal dari seorang Tentara KNIL asal Bello bernama, Samuel Bekon Saijuna. Awalnya Samuel Bekon Saijuna berasal dari keluarga yang beriman atau beragama Kristen Protestan, tapi kemudian ia menjadi orang pertama yang menyebarkan agama Katolik di Bello bersama istrinya.

Istri dari Samuel Bekon Saijuna, berasal dari Jawa Bernama Maria Martha.  atau biasa disapa warga Belo dengan sebutan Mama Ma’a. Meski bersuku Jawa, namun Mama Ma’a adalah seorang yang beragama Katolik.

Satu tahun setelah Indonesia Merdeka, yakni pada tahun 1946, tentara KNIL bernama Samuel Bekon Saijuna ini pulang berlibur ke kampung hamananya di Belo. Mungkin ia sedang cuti dari tugas pekerjaannya sebagai Tentara KNIL.

Saat pulang kampung dari tempat tugasnya di Pulau Jawa ke Bello-Kota Kupang, Samuel B Saijuna tidak datang sendirian tetapi datang bersama pendamping hidupnya, yakni istri tercinta, Maria Martha atau Mama Ma’a.

Menurut penuturan umat setempat yakni Osias Faku dan Yakobus Toasu (alm), dari beliaulah mereka diajarkan mengenal tanda salib atau dalam bahasa Dawan Timor Kupang disebut Tek Amaf. Yakni dari seorang Katolik asal suku Jawa atau asal Pulau Jawa bernama Mama Ma’a, istri dari tentara KNIL bernama Samuel Bekon Saijuna.

Pada tahun itu, Osias Faku dan Yakobus Toasu (alm), dan beberapa orang lainnya belajar cara berdoa agama Katolik dari Mama Ma’a. Kegiatan belajar mereka dilakukan di kediaman keluarga Marthinus Toasu.

Yang menariknya, ternyata bapak Samuel Bekon Saijuna bukan beragama Katolik, tetapi seorang yang beriman Kristen Protestan. Setelah menikah dengan mama Maria Martha atau Mama Ma’a di pulau Jawa, barulah tentara KNIL ini mengikuti sang istri menjadi seorang Katolik. Cerita atau informasi ini menurut keterangan dari Stefanus Toasu, salah satu putra dari Marthinus Toasu,

Namun upaya pengajaran agama Katolik oleh Mama Ma’a dan bapak Samuel Bekon Saijuna tidak berlanjut karena mereka hanya berlibur hingga tahun 1947 saja. Setelah satu tahun berlibur, bapak Samuel Bekon Saijuna dan istrinya kembali ke Pulau Jawa.

Terjadilah kevakuman dalam pengajaran agama Katolik saat itu. Hanya  keluarga-keluarga yang telah diajarkan Tanda Salib, serta Doa Bapa Kami dan Doa Salam Maria yang terus menekuni doa tersebut. Keluarga-keluarga itu terpaksa belajar secara mandiri dan berdoa saja sesuai apa yang pernah mereka dapatkan dari Mama Ma’a dan bapak Samuel Bekon, ketika masih ada bersama mereka.

Setelah vakum selama satu tahun lebih, barulah pada 1949, datang seorang Katolik bernama Mathias Magung, dan melanjutkan penyebaran ajaran Katolik di Belo. Mathias Magung mengajarkan ajaran Katolik kepada beberapa umat perdana saat itu, seperti kepada Marthinus Toasu dan istrinya Elisabet Toasu Boenbalan, kepada Nikodemus Takene dan istrinya Ester Bilaut, kepada Benyamin Toasu dan istrinya Anaci Patnaj, kepada Katarina Ibu dan suaminya Pterus Bilaut, dan kepada Korinus Tuan (pemuda).

Upaya pengajaran ajaran iman Katolik ini dilakukan Mathias Magung. Sampai dengan tahun 1950.  Hasilnya beberapa keluarga di Belo pun menjadi orang Katolik Perdana di Belo.

Pada tahun 1950, bapak Samuel Bekon Saijuna, kembali lagi ke kampung halamannya di Bello Kota Kupang bersama istri yakni Mama Ma’a dan seorang putra mereka bernama Sete Bekon. Kemungkinan saat ini Samuel Bekon Saijuna, telah pension dari tugas pekerjaannya sebagai tentara KNIL.

Saat itu Agama Katolik mulai dikenal warga, maka dibangun sebuah bangunan sederhana dan rewot di atas tanah milik Marthinus Toasu, sebagai kapela kecil untuk tempat ibadat. Ukuran bangunan kapela kecil Cuma kurang lebih 4×6 meter persegi, beratap daun gebang, berdinding bambu dan lantai tanah. Saat ini, di lokasi bekas kapela perdana itu telah menjadi bangunan rumah bapak Stefanus Toasu.

Samuel Bekon Saijuna dan istrinya Mama Ma’a pun kembali aktif melanjutkan karya mereka mengajarkan iman agama Katolik. Samuel Bekon Saijuna, dan istri secara bergantian mengajarkan agama Katolik kepada umat dibantu oleh seorang berna,a Kornelis Kase dan seorang pemuda saat itu Bernama Korinus Tuan.

Kegiatan pengajaran agama Katolik oleh mama Maria Martha atau Mama Ma’a berlangsung hingga tahun 1955. Pada saat itu  umat sesekali dikunjungi oleh Pater Iku, SVD dari Gerja Katedral Kristus Raja Kupang, bersama seorang Guru Agama Katolik bernama Matias Magung, yang sempat melanjutkan pengajaran saat pengajaran vakum akibat Mama Ma’a dan suaminya kembali ke Pulau Jawa .

Kemudian pada tahun 1955 ini, datang seorang pastor bernama Pater Vefer, SVD dari Gereja Katetral Kupang. Pater Vefer, SVD datang di suatu hari Minggu lalu memberi pelayanan misa bagi umat setempat. Beberapa tahun kemudian, kira-kira tahun 1956  sampai 1960 datang. Seorang pastor Bernama Pastor Andreas Matutina dan memberi pelayanan misa hari minggu datang bagi umat Bello.

Selanjutnya pada tahun 1960  datang lagi Pater Piet Manehat, SVD, lalu Pater Iku,SVD dan Herman Kaiser, SVD secara bergantian untuk melayani umat. Umat pun membangun kapela baru di lokasi tanah milik bapak Nikodemus Takene.

Masih di tahun 1960, seorang guru agama Katolik dari Gereja Katetral Kristus Raja Kupang bernama Mathias Magung datang lagi dan mendata semua umat untuk di permandikan dan sambut baru. Dan saat itu, umat Katolik sudah mulai berkembang menjadi kurang lebih 11 KK.

Saat itu, ukuran Kapela baru yang dibangun umat sudah sedikit lebih besar yakni menjadi 6X12m2, dengan atap seng dan dinding bebak, meski masih dengan lantai tanah. Ibadat setiap hari minggu dipimpin oleh seorang imam Katolik Bernama Pater Kornelis.

Jumlah umat Katolik pun terus bertambah seiring bergantinya paroki dari awalnya Paroki Katetral Kristus Radja Kupang, menjadi bagian dari Paroki Santo Yosep Naikoten, lalu berganti lagi menjadi bagian dari Paroki Santa Familia Sikumana, hingga kini menjadi Stasi Santo Agustinus Bello yang berada di bawah wilayah Paroki Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua Kota Kupang.

Pergantian paroki ini karena pertumbuhan dan perkembangan umat Katolik di Kota Kupang yang terus meningkat, sehingga ada pemekaran wilayah Paroki. Dimana Paroki Santo Yosep Naikoten, merupakan pemekaran dari Paroki Katedral Kristus Raja Kupang, Paroki Santa Familia Sikumana merupakan pemekaran dari Paroki St Tosep Naikoten, dan Paroki Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua, merupakan pemekaran dari Paroki Paroki Santa Familia Sikumana.

Hingga kini jumlah umat di Kapela Sulung dalam Wilayah Kota Kupang ini sudah menjadi 2.800 jiwa yang terdiri dari delapan (8) Kelompok Umat Basis (KUB). Bahkan dari Kapela tersebut telah melahirkan tiga orang imam Projo dan 7 orang suster yang berkarya di Keuskupan Agung Kupang (KAK) dan di luar wilayah NTT

Para Umat Perdana yang pernah berjasa dalam pengembangan sejarah Gereja Katolik di Bello yakni;

Samuel Bekon Saijuna

Maria Martha (mama Ma’a)

Marthinus Toasu

Benyamin Toasu

Nikodemus Takene

Mathias Magung

Kornelis Kase

Lambertus Liu

Frans Takene

Frans Kase.

 

Sejarah ini merupakan hasil wawancara penulis dengan sejumlah tokoh Iman Perdana di Bello seperti bapak Yakobus Toasu yang sekarang sudah almarhum dan bapak Yulius Tuan yang juga sudah meninggal dunia, serta Mama almarhum Juliana Toasu

 

(*/ Penulis : Goris Takene)

Comment